Berawal dari Engkol Manual, Mie AJM Kini Jadi Langganan Puluhan Pedagang di Tegal
Disebuah rumah yang terlihat sederhana, terdengar suara mesin yang sejak pagi hingga siang bekerja, mesin itu sedang memproduksi mie. Sulit dibayangkan, puluhan tahun lalu cara produksi di tempat ini menggunakan tenaga manusia. Usaha yang kini dikenal dengan nama Mie Adi Jaya Makmur (AJM) menjadi salah satu produsen mie yang memasok banyak pedagang mie ayam, bakso, hingga rumah makan di Kota Tegal dan sekitarnya.
Pemilik pabrik mie AJM, Ibu Herminingsih, menceritakan bahwa usaha ini dimulai pada tahun 1987. Bermula dari suaminya yang membantu pamannya yang membuka cabang usaha pembuatan mie di Kota Tegal. Kala itu, produksinya dilakukan di rumah orang tua Ibu Herminingsih dan dikerjakan dengan engkol, bukan mesin modern. “Awalnya suami saya ikut usaha pamannya. Setelah kami menikah, paman menyarankan agar kami membuka usaha sendiri. Dari situlah akhirnya kami mendirikan usaha yang sekarang dikenal sebagai Adi Jaya Makmur atau AJM,” tuturnya.

Tahun demi tahun berlalu, permintaan mie semakin meningkat, akhirnya keluarga Herminingsih mulai melakukan modernisasi peralatan. Berbagai inovasi dilakukan agar mampu memenuhi kebutuhan pelanggan.
Kini AJM memproduksi berbagai jenis mie, antara lain: mie ayam atau mie biasa, mie telur, mie keriting dan mie gepeng. Salah satu produk yang sempat dihentikan adalah mie gepeng karena minim peminat. Bahkan mesin produksinya sempat dijual. Selain mie, AJM juga memproduksi kulit pangsit dalam bentuk lembaran maupun yang telah dipotong sesuai kebutuhan pelanggan.

Dalam proses produksinya, AJM menggunakan bahan baku utama berupa tepung terigu. Sedangkan tepung sagu hanya digunakan dalam jumlah sedikit agar mie tidak saling lengket. “Kami tidak memakai bahan pengawet. Karena itu mie selalu dibuat setiap hari agar pelanggan mendapatkan produk yang masih segar,” ujarnya. Karena tidak menggunakan pengawet, mie dapat bertahan sekitar tiga hari pada suhu ruang. Jika disimpan di dalam lemari pendingin, masa simpannya bisa lebih lama meski kualitas rasa perlahan akan berubah.

Saat ini AJM mempekerjakan lima orang karyawan, ditambah Ibu Herminingsih yang terjun membantu dan mengawasi. Sekitar 7 hingga 8 sak tepung terigu dihabiskan untuk produksi mie setiap hari. “Kalau malam takbiran bisa sampai 35 sampai 40 sak tepung dalam sehari. Itu memang masa paling ramai setiap tahun,” jelasnya.
Sebagian besar pelanggan AJM datang langsung ke lokasi produksi untuk mengambil pesanan. Namun bagi pelanggan besar, terutama rumah makan, pedagang mie ayam, dan usaha kuliner di wilayah Kramat maupun Kota Tegal, AJM juga menyediakan layanan pengantaran.
Sementara itu, untuk promosi Ibu Ning mengatakan pihaknya memanfaatkan promosi digital melalui media sosial seperti Facebook dan TikTok. Selain menerima pembelian tempat produksi, pelanggan dapat melakukan pemesanan melalui WhatsApp maupun telepon
