Podcast Central Artha Bertanya: Cara Pintar Perempuan Naik Level
Kota Tegal (news.bprcentralartha.com) – Podcast ini menyoroti relevansi nilai-nilai yang diperjuangkan oleh RA Kartini dari perspektif tiga perempuan inspiratif di bidang keuangan dan pemerintahan, mereka yakni Kepala OJK Tegal – Kurnia Tri Puspita., Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tegal – Bimala dan Wakil Walikota Tegal – Tazkiyatul Muthmainnah. Mereka menekankan bahwa tantangan perempuan saat ini bukan lagi sekedar akses maupun peluang, tetapi peningkatan kapasitas diri, literasi digital, serta ketahanan mental dalam menghadapi perubahan zaman. Mereka sepakat bahwa perjuangan Kartini saat ini harus dimaknai sebagai upaya memerdekakan perempuan dari keterbatasan pengetahuan dan ketimpangan akses.
Menurut Tazkiyatul Muthmainnah yang akrab disapa Mbak Iin, semangat Kartini tidak boleh hanya berhenti pada simbol budaya semata. “Semangat Kartini itu masih sangat relevan… jangan hanya terkait simbol-simbol sanggul atau kebaya, tetapi bagaimana kita memerdekakan perempuan dari kebodohan dan keterbelakangan,” ujarnya. Ia menekankan bahwa tantangan terbesar perempuan saat ini adalah keberanian untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kapasitas di tengah era digital yang banjir informasi tanpa memiliki kemampuan menyaring.
Sementara itu, Bimala menyoroti pentingnya kompetensi dan literasi digital sebagai fondasi utama perempuan untuk berkembang. Ia mengingatkan bahwa teknologi harus diimbangi dengan kecerdasan pengguna. “Handphone itu memang betul smartphone, tapi orangnya juga harus smart,” tegasnya. Ia juga menambahkan bahwa banyak kasus penipuan terjadi karena rendahnya literasi digital, seperti membagikan OTP atau data pribadi tanpa pemahaman yang cukup.
Dari sisi regulator, Kurnia Tri Puspita menekankan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam literasi keuangan keluarga. “Perempuan itu di rumah sebagai menteri keuangan, jadi peran ibu sangat penting dalam mengenalkan literasi keuangan sejak dini,” jelasnya. Ia juga mengingatkan maraknya penipuan digital, mulai dari investasi bodong hingga modus penipuan berbasis emosi seperti “love scam” yang kerap menyasar perempuan.
Ketiga narasumber juga sepakat bahwa peningkatan kapasitas diri harus dilakukan secara berkelanjutan melalui pendidikan, pelatihan, maupun pemanfaatan teknologi seperti podcast dan media digital. Selain itu, dukungan lingkungan (support system) dan keberanian keluar dari relasi yang tidak sehat juga menjadi faktor penting dalam pengembangan diri perempuan.
Di akhir diskusi, pesan kuat disampaikan kepada generasi muda perempuan untuk tidak mengharapkan kesuksesan instan. Orang nomor satu di kantor OJK Tegal yang juga akrab disapa Bu Nia ini mengatakan bahwa generasi sekarang bisa mencatat cita – cita beberapa tahun ke depan, “Kita perlu tujuan besarnya dalam hidup, tulis saja dulu, ke depan akan jadi apa, manfaatnya apa jika tercapai tujuan atau cita – cita itu, catat aja, jalani beberapa tahun ke depan lalu kita ‘upgrade’ dan jalankan” kata Bu Nia.
Mbak Iin mengatakan hidup itu harus serius diperjuangkan. “Hidup itu harus diperjuangkan, tidak ada makan siang gratis,” tegasnya. Senada dengan itu, Bimala mengingatkan, “Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu, tetapi satu-satunya yang benar-benar bisa menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.” Dengan semangat tersebut, perempuan diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya berdaya secara individu, tetapi juga memberikan dampak luas bagi masyarakat.
