Sosialisasi Strategi Anti-Fraud: BPR Central Artha Bangun Budaya Integritas di Lingkungan Kerja

Kota Tegal (news.bprcentralartha.com) – Sebanyak 500 orang lebih pegawai PT. BPR Central Artha ikuti sosialisasi strategi anti-fraud dengan tajuk “Fitrah Tanpa Cela, Kerja Tanpa Fraud” di Hotel Bahari Inn Kota Tegal baru – baru ini. Sosialisasi ini menghadirkan pembicara seorang profesional trainer sekaligus founder Galfari Consultant yakni Ir. Fatik Wijaya, M.M.. Acara dibuka secara simbolis oleh Komisaris PT. BPR Central Artha, Risnawati Handayani, S.H., S.E., M.M. 

Dalam pidato sambutannya, Risnawati mengatakan bahwa jumlah pegawai PT. BPR Central Artha awalnya sebanyak 7 orang, lalu menjadi 11 orang, saat ini sudah mencapai 500 lebih pegawai. Apresiasi terhadap kinerja dan ucapan terima kasih disampaikan kepada seluruh karyawan yang sudah bergabung selama ini.

“PT BPR Central Artha saat ini menjadi sebuah keluarga yang besar,  pada momen ini, saya mewakili pemegang saham dan juga Dewan Komisaris mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah bergabung dan terima kasih pula atas pencapaian tahun 2025. Semoga tahun 2026 ini target laba beserta rasio-rasionya tetap terjaga. Kepada Pak Is (Ismiyanto-pen) dan tim semoga semakin solid” kata Risnawati.

Sementara itu, Direktur Utama PT. BPR Central Artha, Dr. Ismiyanto, S.H., M.H., M.M. berharap semua yang hadir agar bisa memahami 4 pilar strategi anti-fraud yang akan dijelaskan oleh narasumber, 4 pilar tersebut menjadi fondasi di BPR Central Artha dalam pencegahan dan penanganan fraud.

“Sebagai narasumber, Pak Fatik ini telah membersamai kita dari tahun 2010. Acara hari ini jadi fondasi bagi keberlangsungan usaha BPR kita, kita akan mendapatkan pencerahan tentang 4 pilar strategi antifraud yaitu pilar pencegahan, terus mendeteksi jika ada fraud, investigasi kalau terbukti dan terakhir itu monitoring atau pengawasan” ujarnya.

Ia menjelaskan terkait kepedulian terhadap lingkungan kerja,sebagai mahluk sosial, menurutnya, sesama pegawai harus saling nasehat menasehati, menyampaikan nasihat atau kebaikan-kebaikan walaupun satu ayat.

“Jika ada teman kita terdeteksi melakukan fraud, baiknya ditegur, dinasehati seperti apa efeknya, bagaimana dampak kepada keluarganya. Itulah bentuk kepedulian kita untuk menjunjung tinggi integritas, menjaga temen-temen kita untuk tidak melakukan fraud sehingga perusahaan ini tetap berjalan tetap hidup tetap maju,  rezeki itu datang dari Allah,  gajinya melalui BPR Central Artha” imbuhnya.

Sebelum pemaparan oleh Ir. Fatik Wijaya, M.M., peserta mengikuti materi pembuka yang memantik semangat oleh Direktur Kepatuhan, Maya Indra Mulyani, S.H., S.E.

Pada sesi penyampaian pengantarnya, Maya menegaskan tentang pentingnya pemahaman dasar atau esensi fraud. Ia membuka sambutan pengantarnya dengan pertanyaan retoris yang menggugah kesadaran audiens. “Tidak pernah terlihat dalam forum seperti ini, tapi bisa dirasakan kehadirannya. Siapa yang tahu?” ujarnya, memancing rasa penasaran seluruh peserta yang hadir.

Tak lama kemudian, Maya memanggil perwakilan bidang pekerjaan sebanyak 3 (tiga) , dari pengemudi atau sopir, Office Boy, hingga Satpam PT. BPR Central Artha untuk naik ke atas panggung. Momen ini menjadi simbol bahwa setiap individu, tanpa memandang posisi, memiliki peran yang sama penting dalam memahami apa itu fraud.

Maya menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk peneguhan nilai yang harus dipahami bersama. “Momen ini memang harus diketahui semua insan BPR Central Artha, dari depan sampai belakang, dari bawah sampai atas, tanpa terkecuali. Jadi, hari ini bukan tentang jabatan, bukan tentang posisi, tapi tentang bagaimana kita membangun kepercayaan,” tegasnya dengan penuh keyakinan.

Lebih lanjut, Maya juga mengingatkan pentingnya keberanian dan kejujuran di lingkungan kerja. Ia mengatakan bahayanya sikap diam terhadap pelanggaran yang terjadi. “Jangan pernah membiarkan sesuatu yang tidak baik dan kita diem saja. Dan yang terakhir, kita harus berani melaporkan. Karena ketika kita tahu, tapi tidak melaporkan, hanya membiarkan saja, maka itu juga termasuk fraud” ungkapnya. Selanjutnya,  pembacaan deklarasi anti-fraud dimpin oleh pembawa acara.

Dalam sesi sosialisasi anti-fraud, Fatik Wijaya memaparkan materinya dengan bauran sisipan – sisipan  yang memantik peserta. Ia menegaskan pentingnya membangun kesadaran kolektif dalam mencegah praktik kecurangan (fraud) di sektor perbankan. 

Fatik menjelaskan bahwa keberadaan regulasi tidak lepas dari lemahnya integritas individu. “Apakah kita tidak bisa diatur sampai negara mengatur kita dengan masalah fraud ini? Oh iya, karena sebagian uang yang ada di bank itu bukan uang kita, itu uangnya masyarakat,” ujarnya.

Kejujuran adalah nilai yang harus dilatih hingga menjadi kebiasaan. “Jadilah pribadi yang jujur. Jujur adalah value. Dilatih sampai itu menjadi autopilot,” ungkapnya.

Fatik menjelaskan 4 Pilar Strategi Anti-Fraud antara lain Pencegahan (Prevention), Deteksi (Detection), Investigasi (Investigation), dan Pengawasan (Monitoring). Dalam konteks implementasi, strategi anti-fraud mencakup dua aspek utama, yakni sistem dan sumber daya manusia. Sistem mengacu pada penerapan regulasi seperti POJK terkait anti-fraud, sementara aspek manusia berkaitan dengan pembentukan budaya kerja yang berintegritas.

Ia juga mengingatkan dampak serius dari fraud, baik bagi nasabah, perusahaan, maupun individu. “Bisnis itu risiko yang paling besar adalah risiko reputasi,” tegasnya. Menurutnya, jika kepercayaan publik hilang, maka potensi terjadinya penarikan dana besar-besaran hingga kebangkrutan sangat mungkin terjadi.

Fatik menekankan pentingnya ‘action plan’ yang nyata dalam membangun budaya anti-fraud. Ia menyebut bahwa sistem yang baik harus diinternalisasi dalam diri setiap individu. “Selama anti-fraud ini belum menjadi budaya, jangan harap itu akan sukses,” pungkasnya.

Ia menegaskan bahwa perilaku jujur perlu dikampanyekan, diberi rangsangan dan dikemas secara menarik agar dapat diterima dan dijalankan oleh seluruh karyawan. “Membuat perilaku anti-fraud menjadi sesuatu yang menarik untuk dilakukan,” ujar Fatik. Ia menyarankan agar perusahaan menghadirkan pendekatan inovatif seperti menceritakan kisah sukses karyawan berintegritas serta menerapkan gamifikasi (game – game terkonsep) melalui kompetisi antar-divisi dalam mendeteksi risiko fraud.

Menurutnya, pemberian penghargaan menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan partisipasi. “Training itu menjadi menarik ketika orang itu diberikan reward. Sama kalau di anti-fraud, siapa yang mau melaporkan, itu nanti dikasih reward,” ungkapnya. 

Selain itu, Fatik juga menyoroti pentingnya kemudahan dalam sistem pelaporan. Ia menilai bahwa prosedur yang rumit justru menjadi hambatan dalam upaya pencegahan fraud. “Buat mudah, jangan buat sulit anti-fraud itu,” katanya. Ia mendorong implementasi sistem pelaporan yang sederhana dan mudah diakses, seperti melalui WhatsApp atau aplikasi dengan fitur praktis, serta dilengkapi SOP yang jelas dan perlindungan bagi pelapor.

Komunikasi visual juga dinilai penting untuk memperkuat budaya anti-fraud. Fatik menyarankan agar kode etik ditampilkan di berbagai area strategis, seperti ruang rapat dan area umum, serta didukung dengan media visual seperti poster dan tampilan layar komputer yang mengingatkan pentingnya integritas.

Menutup pemaparannya, Fatik menegaskan bahwa budaya anti-fraud harus dibangun melalui sistem yang terintegrasi dan berkelanjutan. Mulai dari kemudahan pelaporan, pelatihan yang relevan, hingga komunikasi yang konsisten, semuanya perlu dirancang agar nilai integritas benar-benar tertanam dalam setiap individu di organisasi.

Acara ditutup oleh Direktur Bisnis, Atika Rochyati, S.H., S.E., dalam sambutannya, Ia berpesan agar saling bersinergi untuk mencegah terjadinya fraud dengan strategi anti-fraud yang sudah dijelaskan oleh pembicara.”Ketika terdeteksi ada indikasi terjadinya fraud di lingkungan kita, segera laporkan, jangan ada pembiaran” tegas Atika.

Melalui saluran WhatsApp whistleblowing,  kata Atika, saluran tersebut untuk pelaporan terhadap adanya aktivitas fraud di lingkungan kerja. Fungsinya sebagai tindakan pelaporan dugaan tindak fraud yang dilakukan oleh orang dalam (karyawan/anggota) organisasi. Dalam sistem ini, Atika menjamin keamanan terhadap pelapor.

“Kalau teman – teman melihat ada yang melakukan fraud, segera lapor ke nomor WhatsApp tadi. Itu sebagai deteksi kita. Fraud itu bisa terjadi di mana saja dan di bagian apa saja. Mulai dari depan, dari satpam, sampai belakang, sampai OB, semuanya bisa” kata Atika.

Lebih lanjut, Atika nenegaskan bahwa kejujuran sangat penting, sesuai dengan yel -yel budaya kerja perusahaan yaitu Jujur, Profesional, Kompeten dan Kompak (Jurnal Kompak).  “Sesuai yel-yel kita, yang pertama itu Jujur, berarti seluruh karyawan Central Arta itu harus jujur. Kalau kita bisa jujur dalam pekerjaan kita, dalam sehari-hari, pasti tidak akan adanya fraud di lingkungan kerja kita” ujarnya.

Selain sosialisasi, dalam acara tersebut PT. BPR Central Artha menyerahkan hadiah kepada 5 (lima) karyawan yang telah berhasil mencapai target Rencana Bisnis Bank (RBB) tahun 2025.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *