7 Pilar Standar Kerja, Pedoman Membangun Budaya Kerja Berkualitas
Tegal www.news.bprcentralartha.com — Upaya memperkuat budaya kerja yang konsisten dan berkualitas terus dilakukan BPR Central Artha. Salah satunya melalui Workshop Refreshment SOP dan Juknis Operasional yang digelar baru-baru ini di salah satu hotel di Kota Tegal. Kegiatan ini mengangkat materi utama yakni 7 Pilar Standar Kerja sebagai pedoman membangun budaya kerja yang berkualitas.
Workshop dibuka secara resmi oleh Komisaris PT. BPR Central Artha, Risnawati Handayani. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap SOP dan juknis operasional, baik bagi pegawai lama maupun pegawai baru.

“Jangan membiasakan kebiasaan yang sudah biasa. Lihatlah SOP dan juknisnya. Kalau tidak tahu, tanyakan ke lini di atasnya. Jangan merasa aman, karena satu kesalahan kecil bisa menimbulkan efek domino, misalnya ketika menginput datanya salah, maka output pasti salah,” tegasnya.
Sebagai pembicara, Direktur Kepatuhan PT. BPR Central Artha, Maya Indra Mulyani, mengajak peserta memahami bahwa memiliki SOP yang sama belum tentu menghasilkan praktik kerja yang sama. Melalui simulasi interaktif dan dialog terbuka, peserta diajak menyadari bahwa perbedaan perlakuan kerja kerap terjadi karena belum adanya pilar yang dijadikan pedoman bersama.

“Pilar itu ibarat tiang bangunan. Kalau tidak ada pilar, bangunan akan ambrol (roboh -pen). Aturan boleh sama, tapi tanpa pilar, penerapannya bisa berbeda-beda. Pilar inilah yang menyatukan pemahaman dan menjadi muara budaya kerja,” jelasnya.
Maya Indra Mulyani memaparkan tujuh pilar standar kerja yang harus dijadikan kebiasaan bersama, yakni Detail, Kaizen (perbaikan konsisten – berkelanjutan), Respek, Disiplin Eksekusi, Akuntabilitas, Dokumentasi, dan Komunikasi Terstruktur.
Pilar detail dimaknai sebagai sikap profesional untuk memastikan keabsahan data, angka, dan dokumen melalui pengecekan ulang, bukan sekadar perfeksionisme. Sementara kaizen menekankan perbaikan kecil yang konsisten setiap hari sebagai fondasi perubahan besar.
Pada pilar respek, peserta diingatkan untuk menghargai manusia di balik target, menghargai ide, usaha, dan proses belajar, serta menyampaikan kritik tanpa merendahkan.
Disiplin eksekusi ditekankan sebagai komitmen menjalankan SOP, bukan mengakalinya atau mencari jalan pintas, dengan tetap mengedepankan manajemen risiko.
Pilar akuntabilitas mengajarkan keberanian bertanggung jawab atas setiap pekerjaan yang dilakukan, tanpa melempar kesalahan.
Pilar Dokumentasi diposisikan sebagai bukti kerja yang krusial dalam industri perbankan yang mengelola dana pihak ketiga, sehingga setiap proses harus tercatat dan dapat ditelusuri.
Sedangkan pilar ke-tujuh yakni komunikasi terstruktur menjadi kunci agar alur koordinasi berjalan selaras sesuai jenjang organisasi.
Maya Indra Mulyani menegaskan bahwa kesalahan besar kerap bermula dari hal kecil yang diabaikan. Jika tujuh pilar ini diterapkan bersama, standar kerja akan meningkat, konflik menurun, dan hasil kerja menjadi lebih baik.
Materi workshop diperkuat oleh Direktur Utama PT. BPR Central Artha, Dr. Ismiyanto, yang menegaskan pentingnya kesadaran dan konsistensi dalam bekerja.

“Kita bekerja tidak perlu menunggu perintah. Kita sudah tahu job kita. Jika tujuh pilar ini benar-benar kita jiwai, maka standar kerja akan naik. Jangan hanya hari ini atau besok, lalu kembali ke mode lama. Lakukan perbaikan terus-menerus, meski hanya 1 persen, tapi jangan mundur,” pesannya.
Melalui workshop ini, BPR Central Artha menegaskan komitmennya untuk menjadikan 7 Pilar Standar Kerja sebagai pedoman bersama, bukan sekadar materi pelatihan, melainkan menjadi budaya kerja yang diterapkan setiap proses operasional perusahaan.

